Lahir di gresik pada tahun 1930-an, ANG WANG SING yang ketika masih berusia
beberapa bulan sudah ditinggal sang bunda meninggal dunia, lalu oleh ayahnya
ANG TIO HONG dititipkan kepada salah satu saudara perempuannya,
setelah ayahnya menikah lagi, ANG WANG SING kembali diasuh ayahnya,
setelah ANG WANG SING berusia sekitar lima tahun sang ayah sakit keras dan
karena keadaan perang, maka sang ayah dirawat di sebuah rumah sakit yang berada
di daerah malang, namun sang ayah ANG TIO HONG mendadak membuat
keputusan yang mengejutkan, dia minta euthanasia atau suntik mati karena tak tahan
lagi dengan penyakitnya, juga karena kasihan dengan dirinya dan ibu tirinya, yang
selalu bolak balik dari gresik ke malang. Akhirnya sang ayah di makamkan
di daerah tersebut.
ANG WANG SING masih kecil sudah tidak mempunyai ayah dan ibu kandung
lagi ini akhirnya namanya diganti menjadi nama jawa, yakni SUWANDI.
Karena keadaan politik negeri pada saat itu. Selang beberapa tahun ibu tirinya
menikah lagi, iapun tinggal bersama kedua orang tua tirinya.
Ketika dewasa ia menikah, namun setelah mempunyai seorang putra,
perkawinannya gagal. setelah bercerai Ia menikah lagi dengan salah satu gadis
yang satu kampung degannya, namun setelah mempunyai seorang putri,
sang istri meninggal dunia.
Setelah melewati masa - masa sulit itu, akhirnya oleh ibu tirinya, Ia dinikahkan
dengan salah satu kerabat jauhnya, disaat istrinya mengandung itulah terjadi
peristiwa yang membuatnya sangat trauma dalam hidupnya, pada saat itu
ayah tirinya adalah seorang aktifis PKI (Partai Komunis Indonesia),
setelah terjadi GASTOK atau Gerakan Satu Oktober,
terjadi pembantaian yang sangat mengerikan, orang-orang yang aktifis atau bahkan
hanya dianggap pengikut PKI dibantai dengan sadis, sang ayah tiripun tak luput
dari pembantaian, bahkan saat itu Ia pun hampir terbunuh, tapi karena pertolongan
dari seseorang, Ia lolos dari maut.
Peristiwa itu membuatnya sangat trauma, bahkan anak-anaknya pun dilarang untuk
berpolitik. Hingga akhir hidupnya, Ia selalu mewanti-wanti kepada seluruh
anak-anaknya yang akhirnya berjumlah delapan orang,
KALIAN JIKA JADI ORANG TIRULAH ALI BABA
artinya tidak pintar tapi mengerti. MENUNGSO YEN PINTER DADI MINTERI,
YEN NGERTI DADI NGERTENI artinya manusia kalau pintar banyak yang
membodohi orang lain tapi kalau manusia yang mengerti menjadi orang yang selalu
mengerti perasaan orang lain dan mengerti keadaan.
Pada usia tujuh puluhan akhirnya Ia menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan
anak-anaknya yang begitu mencintainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar